Sejarah
Singkat dan Perjuangan Pendirian STAI Jannatul Firdaus
"Dari Sebuah Doa, Tumbuh Menjadi Cahaya Ilmu"
Perjalanan lahirnya Sekolah
Tinggi Agama Islam (STAI) Jannatul Firdaus bukanlah kisah yang lahir dalam
semalam. Ia adalah buah dari doa panjang, pengorbanan tanpa pamrih, dan cinta
tulus terhadap pendidikan Islam. Di balik berdirinya lembaga ini, ada sosok
yang menjadi pilar utama — Abuya Tgk. H. Syarifuddin As-Singkily, M.A.,
Hj. Ratna Dewi, S.Tr.Keb., M.H., Ustadzah Raudhatus Syarifah, S.Pd. dan Ust. Dr.
Agus Suryadi, M.Pd.
Mereka memiliki satu kesatuan niat dan perjuangan — membangun peradaban ilmu di Kota
Subulussalam, tanah kelahiran ulama besar Syeikh Hamzah Fansuri.
Awal
Sebuah Perjuangan
Sejak tahun 2001, Abuya Tgk.
H. Syarifuddin As-Singkily telah menanamkan benih awal pendidikan melalui Pondok
Pesantren Terpadu Jannatul Firdaus. Lembaga ini berdiri di atas sebidang
tanah yang dibeli Abuya sendiri dari seorang non-muslim di masa konflik Aceh —
tanah yang kemudian disucikan oleh niat luhur untuk mendidik generasi umat.
Nama Jannatul Firdaus bukan
sekadar nama indah, melainkan kenangan spiritual Abuya terhadap Toko Buku
dan Kitab Firdaus yang pernah beliau dirikan semasa studi di luar negeri.
Nama itu adalah doa agar tempat ini menjadi taman surga bagi para pencari ilmu.
Dengan latar pendidikan di Universitas
Al-Azhar Kairo, Mesir, dan Aligarh Muslim University, India, Abuya
membawa pulang semangat keilmuan dunia Islam. Sistem kurikulum yang diterapkan
di pesantren memadukan pendidikan modern di dalam kelas dan tradisi
salaf melalui pengajian kitab klasik, ditambah program unggulan Bahasa
Arab, Bahasa Inggris, dan Tahfidzul Qur’an.
Dari
Pesantren ke Perguruan Tinggi Islam
Seiring berjalannya waktu, Abuya
bersama keluarga melihat kenyataan bahwa banyak santri dan guru dayah memiliki
ilmu yang luas dan berkualitas, namun belum memiliki legalitas akademik
berupa gelar sarjana. Dari sanalah muncul tekad untuk mendirikan Sekolah
Tinggi Agama Islam (STAI) Jannatul Firdaus — sebagai jembatan antara ilmu
klasik dan sistem pendidikan tinggi yang diakui negara.
Perjalanan menuju pendirian STAI
tidak mudah. Segala hal harus diperjuangkan — mulai dari biaya, waktu, tenaga,
hingga doa tanpa henti. Langkah Proses Pembentukan Panitia pada Tanggal 22
Oktober 2021, kemudian ke tahap Assesmen kampus pada tahun 2022 semua itu
dibantu oleh para tokoh dan sahabat seperjuangan, di antaranya Dr. Fahrul
Rijal, Dr. Misnan, (Alm.) Prof. Dr. Gunawan, serta banyak
pihak lain yang turut berjuang dalam pendirian STAI Jannatul Firdaus.
Perjuangan
yang Menyatukan Hati
Tak jarang perjuangan itu diwarnai
air mata. Ketika dana terbatas, mereka tidak berhenti berusaha; ketika lelah
datang, mereka saling menguatkan dengan doa. Dalam setiap kesulitan, selalu ada
keyakinan bahwa “jika niatnya lillahi ta’ala, maka Allah akan bukakan jalan.”
Dengan izin Allah dan dukungan
masyarakat, STAI Jannatul Firdaus pada tanggal 21 Mei 2025 telah
ditandatangani oleh Menteri Agama Kyai Prof Nasaruddin Umar dan telah
diserahkan langsung oleh Prof Askal pada tanggal 31 Agustus 2025 membawa
legalitas Surat keputusan Kementerian Agama No 575 Tahun 2025 dengan 2 Jurusan
dan 4 Program studi pertama Tarbiyah Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah
(PGMI) dan Syariah 3 Program Studi (HES,HKI,HPI) yang beralamat di Jalan Firdaus No. 10A, Kota Subulussalam, lokasi
strategis yang memudahkan akses bagi mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah.
Warisan
untuk Generasi Umat
Kini, STAI Jannatul Firdaus bukan
sekadar institusi pendidikan. Ia adalah manifestasi cinta keluarga besar
Jannatul Firdaus terhadap ilmu dan dakwah. Ia menjadi tempat di mana para
santri, guru, dan masyarakat menemukan makna baru tentang perjuangan — bahwa
membangun pendidikan bukan hanya mendirikan bangunan, tapi menegakkan cahaya
peradaban.
Di bawah bimbingan Abuya Tgk. H.
Syarifuddin As-Singkily dan keluarga, semangat itu terus menyala. Dari sebuah
pondok sederhana kini tumbuh menjadi lembaga yang memberi arah bagi masa depan
pendidikan Islam di Kota Subulussalam dan sekitarnya.
“Kami tidak
hanya membangun kampus, tapi membangun harapan.
Kami tidak hanya mencetak sarjana, tapi menumbuhkan pejuang ilmu.”
Semoga perjuangan suci ini menjadi
amal jariyah bagi semua yang terlibat, dan semoga STAI Jannatul Firdaus
senantiasa menjadi taman surga ilmu bagi generasi yang datang kemudian.